[FF Series] You’re My Present Part 3

AUTHOR: Hana L. Kim & Joker is Mine

ID ADMIN BLOG: hanakim01 & jokerismine

TITLE: You’re My Present part 3

MAIN CASTS:

  • Donghae Super Junior as Lee Donghae.
  • Gikwang B2ST as Lee Gikwang.
  • Readers as Goo Hyomin.
  • Sooyoung SNSD as Choi Sooyoung.

OTHER CASTS:

  • Mrs. Goo as Hyomin’s mother
  • Mr. Lee as Donghae and Gikwag’s father.

GENRE : Romance, Family

RATTING: PG 15+

LENGTH: Multichaptered

DISCLAIMER: All of the casts for this FF are Non-OC. I only borrowed their names. Hehe 😀

And this story only a FICTION, not the FACT. Sorry if there is a same character.

SUMMARY: I wanna stop the clock now!

A/N:  mianhae kalo part 3 nya ini ga dapet feelnya. Aku buru-buru bikinnya. Part 4 nya kayanya rada lama soalnya aku juga mau hiatus dulu sementara waktu. Aku baru mau masuk SMA jadi mulai tgl 13 Juli ini aku MOS *curcol*. Mohon pengertiannya ya readers… *bow*

DON’T BE A SILENT READER! Tinggalkanlah jejak kalian disini. Kamsahamnida… Annyeong…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

^Donghae’s POV^

Hyung…” itu suara Gikwang. Aku tahu itu suara Gikwang. Kumohon orang yang diperkenalkan Hyomin ini bukanlah dirinya. Tapi aku tak bisa menolak takdir. Pemilik suara tadi memang benar Gikwang, orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini.

Hyung… Ini benar kau, kan?” tanyanya lagi. Kini ia berjalan mendekat kearahku. Kulihat wajah Hyomin terlihat sangat bingung.

“Kalian saling kenal?” tanyanya pada kami berdua. Aku tak menggubris pertanyaannya. Aku segera menarik tangannya untuk meninggalkan tempat itu sebelum Gikwang menjawab pertanyaan itu. Aku merasa ini bukan saat yang tepat untuk acara pertemuan mengharukan antara dua kakak-beradik yang tidak bertemu selama 4 tahun. Aku segera memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di depan kami.

Oppa… Sebenarnya ada apa denganmu dan Gikwang-ssi? Kenapa kau menarikku seperti ini. Aku bahkan belum sempat berpamitan pada mereka. Bagaimana kalau mereka salah paham. Aku sungguh habis pikir dengan kelakuanmu ini.” Hyomin mengomel panjang lebar setelah kami berada di dalam taksi. Ya, aku bisa memakluminya karena hari ini aku memang bertindak sangat tidak pantas.

Mianhae jagi-ya… Aku terpaksa melakukan ini. Aku akan menceritakannya nanti sesampainya kita di tempat tujuan.”

“Memangnya kita mau kemana?”

“Tunggulah samapai kita benar-benar sampai disana,” jawabku sambil tersenyum penuh arti kepada Hyomin. Ia hanya menganggukkan kepalanya.

+++++

^Gikwang’s POV^

Hyung…” aku masih mengejarnya yang lari sambil menarik tangan Hyomin. Aku teru mengejarnya sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Aku sangat yakin orang itu adalah Donghae hyung. Tapi kenapa ia bisa mengenal Hyomin?

“Gikwang-ah… Tunggu aku! Kyaa…” Aku menoleh ke belakang. Itu suara Sooyoung nuna. Ia ternyata juga mengikutiku mengejar Donghae hyung dan Hyomin, tetapi sepertinya ia tersandung dan jatuh. Aku segera berbalik menghampirinya dan menolongnya. Dan saat itulah aku melihat Donghae hyung dan Hyomin sudah menaiki sebuah taksi dan aku tak bisa mengejarnya lagi.

Gwenchana?” tanyaku seraya memeriksa kaki Sooyoung nuna. Ternyata kakinya terluka.

Mianhaeyo, seharusnya aku tidak meninggalkanmu begitu saja. Sekarang aku akan mengantarmu ke apartemenmu dan kita harus mengobati lukamu ini,” ujarku sambil memberikan tanganku untuk membantunya berdiri.

“Tapi, kau kan harus mengejar orang tadi…”

“Sudahlah, saat ini mengobatimu adalah hal yang lebih penting.” Sooyoung nuna pun akhirnya menuruti kata-kataku. Aku menyerah hari ini. Aku tahu aku tidak bisa mengejar Donghae hyung sekarang. Lebih baik aku mendiskusikan hal ini terlebih dulu dengan Soyoung nuna.

*10 menit kemudian*

“Ah, Gikwang-ah, biarkan aku mengobati lukaku sendiri. Ini bukan hal yang serius.” Sooyoung nuna terlihat malu-malu saat aku mulai mengobati kakinya.

“Sudahlah nuna, kali ini kau harus menurut padaku. Aku yang menyebabkanmu begini.” Akhirnya Sooyoung nuna diam lagi. Suasana di apartemen ini pun sangat sunyi. Setelah selesai mengobatinya, aku duduk disampingnya.

Nuna…” ujarku sambil memegang tangannya dan menatapnya lekat-lekat.

“Gikwang-ah, jika kau tidak ingin menceritakannya sekarang, aku tidak apa-apa. Jangan paksakan dirimu,” sahutnya seraya mengelus-elus punggung tanganku. Aku menggeleng.

“Aku harus menceritakannya sekarang, nuna. Orang tadi adalah Donghae hyung. Kau masih ingat ceritaku tentangnya kan?” Sooyoung nuna menganggukkan kepalanya. Aku sudah pernah menceritakan tentang Donghae hyung kepada Sooyoung nuna sebelum kami bertunangan. Aku memang sengaja menceritakannya karena aku tidak ingin ada yang ditutupi diantara kami, termasuk masalah pribadi. Ia tahu aku selalu mencari-cari Donghae hyung selama 4 tahun ini. Dan ia juga tahu bahwa Donghae hyung sangat membenciku karena kematian eomma.

“Aku sudah menduganya. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyanya padaku.

“Aku tidak tahu, nuna. Haruskah aku menemuinya sekarang dan meminta maaf padanya? Aku sudah merasa sangat bersalah. Appa juga sangat menyesal karena dahulu menngusirnya dari rumah.”

“Kurasa ini waktu yang tepat. Kau sudah mencarinya selam 4 tahun. Dan sekarang kau sudah menemukannya. Lebih baik kalian segera menyelesaikan masalah ini. Ini juga tidak baik untuk kalian jika terlalu lama seperti ini. Bgaimana pun juga kalian masih saudara kandung.”

“Kau benar nuna… Aku akan menemuinya lagi besok. Kuharap Hyomin akan membantuku bertemu dengan hyung,” ujarku akhirnya. Aku sudah membulatkan tekadku. Aku juga sudah tidak tahan lagi terus-terusan seperti ini. Tiba-tiba Sooyoung nuna melepaskan genggaman tangannya dan memelukku.

“Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku akan selalu berada disisimu. Aku tahu kau adalah Gikwang yang kuat.” Ia mengusap-usap punggungku. Inilah hal yang paling kusukai dari Sooyoung nuna. Umur kami memmang tidak berbeda jauh tapi ia sangat dewasa dan ia telah memberikan gambaran seorang eomma padaku. Eomma memang meninggalkanku begitu cepat dan aku tidak sempat merasakan kasih sayangnya secara penuh. Tapi eomma telah mengirimkan Sooyoung nuna untukku sebagai pengganti dirinya. Aku pun akhirnya membalas pelukkan Sooyoung nuna.

+++++

*Author’s POV*

“Kenapa kita ke sini oppa?” tanya Hyomin kepada Donghae yang berjalan di sampingnya. Kini mereka berada di Lotte World.

“Aku merasa Gikwang tidak akan mengejar kita ke sini. Ayo kita masuk ke restora itu dulu. Aku akan menceritakan segalanya,” ujar Donghae seraya menarik tangan Hyomin ke sebuah restoran. Mereka mengambil tempat duduk yang terletak diujung ruangan dan berada di samping jendela.

Oppa, ada apa sebenarnya denganmu dan Gikwang-ssi?” Hyomin sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Donghae menghela nafas.

“Temanmu itu, Lee Gikwang kan?” Donghae malah balik bertanya. Hyomin hanya mengangguk dan menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Donghae selanjutnya.

“Dia adalah dongsaengku, yang kutinggalkan 4 tahun lalu, dan yang sangat kubenci.” Hyomin menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Donghae.

“Kau terkejut? Sudah kuduga,” ujar Donghae setelah melihat reaksi Hyomin. “Kami memang berbeda, sangat berbeda. Orang pun sering membanding-bandingkan kami saat kami kecil. Aku bisa memakluminya jika kau tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Tapi kami memang benar kakak-beradik.” Donghae memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.  Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. “Aku tidak menyangka ternyata kau dan dirinya satu kampus, bahkan kalian berteman. Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini dalam situasi seperti itu.”

“…” Hyomin hanya bisa terdiam. Ia berusaha mencerna kata-kata Donghae. Kemudian Hyomin tersenyum dan menggenggam tangan Donghae.

Oppa… Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan terus menghindar seperti ini? Ini sudah 4 tahun oppa. Kurasa kau tidak baik terus-terusan seperti ini.”

“Aku juga tidak tahu. Aku tidak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini. Kumohon hari ini saja lupakan masalah ini untuk sesaat. Hari ini aku mengajakmu berjalan-jalan untuk melupakan masalahku. Jebal jagiya…” Donghae memohon dengan wajah yang memelas. Hyomin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya Hyomin menuruti keinginan Donghae. Mereka berkeliling Lotte World. Membeli pernak-pernik lucu. Membeli baju couple. Berfoto bersama. Hyomin sangat menikmati saat-saat seperti itu. Begitu juga dengan Donghae. Tapi jauh di relung hatinya ia merasa sangat sedih. ‘Entah sampai kapan aku bisa merasakan saat-saat bahagia seperti ini?’ batin Donghae. Ia menatap Hyomin yang berjalan disampingnya dengan tatapan nanar. ‘Tuhan, kenapa kau kirimkan seorang malaikat sepertinya disaat waktuku tersisa sangat sedikit? Aku sungguh takut kehilangannya.’

Oppa… Barusan saja eomma mengirim pesan padaku. Kataya aku harus pulang sekarang. Bagaimana ini oppa?”

“Hmm.. Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang. Lagipula aku sudah cukup puas berjalan denganmu hari ini.”

“Tapi aku belum puas…” Hyomin memajukan mulutnya beberapa senti. Cemberut.

“Hahaha… untuk apa kau seperti itu? Kau mau kucium di tengah keramaian ini?” tanya Donghae dengan wajah nakalnya sambil berpura-pura akan mencium Hyomin. Hyomin gelagapan dan segera menutup mulutnya.

Ani… Aniyo… Ayo kita pulang.” Hyomin mempercepat langkahnya. Bisa dipastikan wajahnya kini memerah semerah cabai merah(loh?) Donghae hanya menertawakannya sambil mengejar Hyomin dari belakang.

+++++

“Ah… Kita sudah sampai…” ujar Donghae seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar ke arah Hyomin. Hyomin masuk ke pelukan Donghae.

“Culik aku saja oppa. Aku ikhlas kok,” ujar Hyomin dengan nada manja.

Pletak… Donghae memukul pelan kepala Hyomin.

“Kau ikhlas jika keluargamu melaporkanku ke polisi, lalu aku masuk penjara, dan kita tidak bisa bertemu lagi? Kau ingin seperti itu?”

“Ah shireo!!!” Hyomin secepat kilat menggelengkan kepalanya.

“Baiklah aku akan pulang ke rumah sekarang. Tapi oppa janji akan menjemputku lagi besok?”

Donghae tertawa melihat kelakuan manja Hyomin. Ia hanya mengangguk-angguk tanda setuju.

Nuguya? Hyominnie kau sudah pulang?” terdengar suara dari arah belakag Hyomin. Ia segera membalik tubuhnya yang tadinya berhadapan dengan Donghae kini membelakagi Donghae.

E eomma…!!!” pekik Hyomin.

“Siapa itu Hyominnie? Temanmu? Kenapa tidak kau ajak masuk saja sekalian?”

“Ah ini… eumm…”

Annyeong haseyo eomonim. Lee Donghae imnida. Bangapseumnida.” Tanpa dikomando siapa pun Donghae segera memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya tanda hormat kepada orang yang ternyata adalah ibunda Hyomin itu.

“Kau temannya Hyominnie?” tanya ibunda Hyomin sambil mengamati Donghae dari ujung kepala hingga keujung kaki. Donghae mengangguk.

“Hyominnie, ajaklah temanmu itu masuk dahulu. Eomma memasak makanan yang cukup banyak malam ini. Kita tak akan bisa menghabiskannya berdua saja. Ayo Donghae-ya. Tidak usah sungkan-sungkan.” Ibunda Hyomin masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Hyomin dan Donghae saling memandang, kemudian Hyomin menarik tangan Donghae untuk masuk ke rumahnya meuruti perkataan ibundanya.

“Makanlah yang banyak Donghae-ya. Anggap saja seperti di rumahmu sendiri.” Donghae mengangguk. Ibunda Hyomin sangat perhatian. Donghae sudah lama tidak merasakan perhatian yang begitu hangat seperti ini. Donghae makan dengan lahap. Entah karena memang lapar atau karena terlalu bahagia, yang jelas hal itu membuat Hyomin yang sedari tadi memandangi Donghae karena khawatir Donghae tidak berselera akibat masalah yang terjadi hari ini merasa tak perlu khawatir sedikit pun. Hyomin kemudian juga memakan makanannya dengan lahap. Ibunda Hyomin memperhatikan putri semata wayangnya ini terlihat sangat bahagia berada di dekat Donghae menyadari ada sesuatu yang special antara mereka berdua.

“Donghae-ya… Sudah berapa lama kamu bertema dengan Hyomin? Kalian sepertinya akrab sekali. Tapi Hyomin tidak pernah bercerita bahwa ia memiliki teman setampan dirimu.” Ibunda Hyomin angkat bicara. Kini mereka sedang duduk-duduk di ruang tamu. Sepertinya Ibunda Hyomin ingin mengintrogasi Hyomin dan Donghae. Donghae tersipu malu dipuji oleh Ibunda Hyomin. Hyomin panik, takut Ibunya ini menanyai Donghae yang macam-macam dan membuat Donghae tidak nyaman.

“Ne,,, saya sudah cukup lama mengenal Hyomin. Dan kami juga sudah berteman cukup lama. Tetapi benarkah Hyomin tidak pernah menceritakan tentang saya?”

Ibunda Hyomin mengangguk. Hyomin semakin panik.

“ah itu… eomma sebenarnya…”

“Ssttt…” potong Ibunda Hyomin cepat. “Sekarang bukan saatnya kamu untuk berbicara.” Hyomin hanya terdiam tidak bisa berkutik. Dongahe tersenyum dan memberi isyarat kepada Hyomin agar tak perlu khawatir.

“Maafkan Hyoomin jika ia sering menyusahkanmu ya, Donghae-ya. Dia ini sejak kecil keras kepala. Dia juga kurang kasih sayang dari ayahnya karena dia sudah ditinggal sejak kecil. Eomonie tidak bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya karena Eomonie juga harus menafkahinya seorang diri,” ujar Ibunda Hyomin dengan mata berkaca-kaca. Hyomin menggenggam tangan Ibudanya, berharap bisa sedikit menenangkan Ibunda tercintanya itu.

“Anda tidak perlu khawatir eomonim. Saya malah senang jika bisa berada di samping Hyomin dan melindunginya,” ujar Donghae mantap.

“Baiklah, eomonie titip Hyomin ya. Kalau dia nakal marahi saja dia.”

eomma…” Hyomin merasa malu karena Ibundanya berkata seperti itu kepada Donghae. Donghae hanya tertawa dan mengangguk tanda setuju. Tidak lama setelah itu Donghae pamit pulang. Sesudah Donghae pulang, Ibunda Hyomin dengan cepat menarik tangan Hyomin untuk duduk dihadapannya.

“Sejak kapan kamu berpacaran dengannya?” tanya Ibunda Hyomin to the point.

Ye? Ah eomma tahu darimana aku berpacaran dengan oppa?” Hyomin malah bertanya balik sambil malu-malu.

“Aishh… Anak ini. Kamu pikir aku ini eomma-nya siapa? Padahal pacarmu setampan itu tapi kamu tidak mengenalkannya pada eomma. Tega sekali. Hiks…”

“Aaah~ bukan seperti itu eomma. Aku bahkan baru sehari menjadi pacarnya. Ehehee…” Hyomin terkekeh sendiri. Pluk… Ibundanya menimpuk Hyomin dengan bantal di sofa #eh?

“Jadi anak ini sudah mulai nakal ingin berpacaran backstreet. Untung saja tadi eomma mendapatimu didepan rumah, jika tidak, entah sampai kapan kamu akan merahasiakan hal ini dari eomma?”

“Ah tidak eomma tenang saja. Aku bukan anak nakal.” Hyomin memasang puppy eyes-nya agar eomma-nya tidak marah padanya.

“Apa-apaan wajah seperti itu tidak akan mempan lagi pada eomma. Tapi… Sepertinya Donghae itu agak tertutup. Bagaimana keadaan keluarganya?” Hyomin menghela nafas. Sepertinya ia harus menceritakan keadaan sebenarnya kepada Ibundanya ini. Selama ini ia memang selalu menceritakan segala sesuatu kepada Ibunya. Mulailah Hyomin bercerita tentang kejadian 4 tahun yang lalu hingga saat ia dan Donghae bertemu dengan Gikwang. Ibunda Hyomin hanya manggut-manggut, kadang-kadang menggelengkan kepalanya. Ibundanya juga jadi prihatin dengan keadaan Donghae.

“Hyomin-ah, kamu harus tetap di sampingnya. Kasian dia pasti sangat membutuhkan perhatianmu saat ini. Lagipula sepertinya ia benar-benar menyayangimu. Hemmm…”

Ne eomma. Aku pasti akan selalu mendukungnya. Tapi… Apa ini berarti eomma merestui hubungan kami?” Ibunda Hyomin terlihat berpikir sebentar. Kemudian tersenyum manis kepada Hyomin. Tidak perlu menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Ibundanya, Hyomin langsung menghambur ke pelukan Ibundanya.

Gomawoyo eomma… Nan jeongmal saranghae… Muach…” Hyomin mencium pipi Ibunya dengan penuh semangat(?). Ibunya hanya menepuk-nepuk kepala Hyomin. Ibunya heran kenapa anaknya ini menjadi secentil ini. Ckck

*****

^Hyomin’s POV^

Aku berjanji aka bertemu dengan Gikwang sesudah kelasku selesai. Aku menunggunya di kantin kampus. Ternyata aku tak perlu menunggu lama. Ia langsung datang menghampiriku dan mengambil duduk di depanku.

“Hyomin-ssi… Langsung saja. Jadi kau mengenal uri hyung, eh maksudku Lee Donghae?” Hyomin mengangguk.

“Jadi kalian benar bersaudara ya? Maafkan aku kemarin meninggalkanmu dalam keadaan bingung. Oppa menarik tanganku dan aku tidak bisa berkutik. Tapi tenang, aku akan membantu kalian bertemu hari ini…” Gikwang membulatkan matanya.

Jinjja? Kau mau membantuku bertemu dengannya?”

“Iya, tentu saja. Kau adalah kawanku. Lagipula aku sudah tahu tentang masalah kalian, dan aku merasa kalian harus segera menyelesaikan masalah ini. Awalnya au tidak ingin ikut campur masalah kalian ini, tapi berhubung aku sudah terlanjur terseret ke dalamnya jadi apa boleh buat aku tidak bisa tinggal diam saja.” Aku mengerlingkan mataku ke arah Gikwang. Gikwang kegirangan.

Gomawo, jeongmal gomawoyo Hyomin-ssi… Ayo kita ke tempat hyung sekarang juga.”

Aku membawa Gikwang ke cafe tempat Donghae biasa manggung. Tapi aku sengaja hanya menyuruh Gikwang saja yang masuk ke dalam. Aku meninggalkan mereka berdua karena aku tahu ini adalah urusan keluarga mereka dan aku tidak berhak ikut campur terlalu jauh lagi.

Good luck!” Aku menepuk bahu Gikwang pelan.

Thanks.” Gikwang menarik nafas dan memasuki cafe.

+++++

^Gikwang’s POV^

Aku melangkahkan kakiku ke dalam sebuah cafe yang baru saja ditunjukkan Hyomin. Kata Hyomin di cafe inilah biasanya Donghae manggung. Ya, aku tahu ia sangat mencintai musik, jadi tidak heran jika ia bekerja sebagai penghibur disini. Kuedarkan pandanganku di dalam cafe ini. Dan akhirnya aku mendapati sesosok yang kucari sejak tadi. Ia terlihat sedang membereskan alat musiknya. Sepertinya ia sudah selesai dengan pekerjaannya disini. Aku menghampirinya dari belakang.

Hyung…” panggilku pelan. Donghae sepertinya terkejut.

“Kau, apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencarimu hyung. Aku terus mencarimu selama 4 tahun ini.”

“Sudahlah, tidak ada gunanya kau mencariku.” Donghae bersiap meninggalkanku, tapi aku dengan sigap menarik tangannya.

“Kita tidak bisa seperti ini terus hyung. Aku harus bicara denganmu. Ini juga menyangkut appa.” Kulihat Donghae mulai menggigit bibir bawahnya. Itu adalah kebiasaanya jika ia sudah bingung. Ia tidak berubah.

“Hmm… Baiklah… Tapi tidak disini.” Donghae akhirnya mengajakku keluar dan aku membawanya ke mobilku. Ya, ini adalah tempat paling aman. Tidak akan ada orag yang mengganggu pembicaraan kami.

Hyung… Appa sedang sakit. Appa sakit sejak 2 tahun yang lalu. Appa sangat ingin bertemu denganmu. Appa selalu mencarimu. Kumohon. Pulanglah. Appa sangat menyesal dengan perbuatannya 4 tahun yang lalu.”

“…” Donghae membisu.

Aku melanjutkan kata-kataku, “Aku… Aku juga minta maaf hyung. Aku tahu kita semua kehilangan eomma karena diriku… Aku juga membenci diriku sendiri. Aku…”

Geumanhae… Tidak ada gunanya kau menyalahkan dirimu. Dalam hal ini aku juga sudah salah. Tidak seharusnya aku berpikiran sempit seperti itu. Aku sudah gagal sebagai anak tertua dan sebagai kakakmu. Mianhae…

Aku terdiam. Aku sungguh tidak menyangka Donghae akan menjawab seperti ini. Kupikir ia akan memarahiku lagi seperti dulu. Padahal aku sudah menyiapkan mentalku. Ah tapi ini kesempatan untuk membawanya pulang ke rumah.

Hyung… Kau mau kan pulang ke rumah?” Lama aku menunggu jawabnya. Tapi akhirnya aku melihat ia mengaggukkan kepalanya sedikit. Tanpa pikir panjang aku langsung menyalakan mobilku dan melaju menuju rumah kami. Sesampai di depan rumah, Donghae tidak segera masuk. Sepertinya ia masih ragu. Aku segera menarik tanganya. Ia menurut saja.

Tok tok tok…

Appa, ini Gikwang… Bolehkah aku masuk?”

“Masuklah Gikwangie…” terdengar suara lemah dari dalam kamar. Aku menatap Donghae kemudian masuk ke dalam kamar appa.

“Kau sudah pulang Gikwangie.” Appa tersenyum lemah padaku.

Ne, appa. Hari ini aku mengajak seseorang…” Doghae masuk ke kamar appa. Ia menundukkan kepalanya. Appa terdiam. Hening.~~

“Donghae-ya… Itukah kau?”

“Donghae-ya, kau sudah kembali? Donghae-ya kemarilah…”

Donghae munuruti kata-kata appa. Ia duduk disamping tempat tidur appa. Appa menyentuh kepalanya.

“Ini benar-benar uri Donghae. Mianhaeyo, Donghae-ya. Appa sudah melakukan kesalahan besar menyia-nyiakanmu…” Kulihat mata appa sudah berkaca-kaca. Aku sudah lama tidak melihat appa menangis. Terakhir kali adalah saat kematian eomma. Donghae tetap diam tidak bergeming.

“Donghae-ya, kumohon jangan pergi lagi dari rumah ini. Biarkan appa menebus kesalahan appa dimasa lalu.

Ani appa…” Akhirnya Donghae buka mulut. “Akulah yang bersalah. Aku yang harus menebus kesalahanku pada appa dan Gikwangie.” Ia menatapku setelah menatap appa.

Jeongmal mianhae… Aku Cuma bisa mengatakan itu. Tapi aku akan berusaha menebus semua kesalahanku.” Aku berjalan mendekati Donghae. Duduk disampingnya. Ia merangkulku dan menggenggam tangan appa. Kulihat appa yang menunjukkan wajah bahagianya. Appa tersenyum lebar.

+++++

^Donghae’s POV^

Jagi… Kau kan yang memberitahu pada Gikwang dimana aku bekerja?”

Ne, waeyo? Bukannya kau bilang kau ingin menyelesaikan masalah itu? Apa aku salah?”

Aniyo… Gomawoyo…

“He? Apa maksudmu oppa?”

“Aku sudah kembali ke rumahku…”

NE? JINJA?

“Aishh… Kau ingin mebuatku tuli eh? Iya sekarang aku sedang berada di kamar yang kutinggalkan selama 4 tahun. Ternyata tidak ada yang berubah. Gomawoyo… Kaulah yang telah membuatku menyelesaikan masalah ini, Jagi-ya~

“Hhhh… Syukurlah akhirnya kau berbaikan dengan keluargamu. Aku turut bahagia oppa…”

Tiba-tiba aku merasa kepalaku mulai menusuk-nusuk lagi.

“a ah Jagi-ya… Mianhae… Aku harus istirahat sekarang. Kau juga istirahatlah…”

Ne… Saranghae Jagi-ya… Have a nice dream honey…

Nado saranghae…” aku mengucapkannya dengan sisa tenagaku dan telepon pun langsung kututup. Sial, kenapa akhir-akhir ini kepalaku semakin sering sakit? Aku mencari-cari obatku di dalam tas. Tapi aku tidak menemukannya. Oh please… Jangan bilang aku meninggalkan obatku disuatu tempat. Aku baru saja merasakan sedikit kebahagiaan hari ini. Kumohon waktu, berhentilah sesaat saja agar aku bisa merasakan kebahagiaanku sedikit lebih lama.

Aku merasa kepalaku semakin sakit. Dan sesuatu mengalir lagi dari hidungku. Shit! Aku langsung menyambar tissue yang berada di meja samping tempat tidurku.

Tok tok tok…

Hyung… Kau belum tidur kan?” Iitu suara Gikwang.

“A a ada apa Gikwangie?” Aku berusaha menyembunyikan rasa sakitku. Tapi pandanganku semakin buram. Dan aku merasa kamarku berputar-putar.

Prangg… Tanganku menyenggol vas bunga di meja. Dan aku semakin kehilangan kesadaranku. Kudengar teriakan Gikwang yang terdegar sangat cemas. Tapi semalkin lama semua itu semakin samar dan… GELAP.

#####

***to be continued***

Note: Pssttt… Ntar kalo aku balik aku bakal bawa FF baru juga deh. *yang ini aja belum kelar udah mikir FF lain. Author ababil #plak*

Advertisements

5 thoughts on “[FF Series] You’re My Present Part 3

  1. Pingback: Selingkuh, Ruhut Sitompul Dilaporkan Istri ke Mabes Polri « Kwandanglebay.Com

  2. Pingback: Pidato Semalam, SBY Lupa Pakai Semir Rambut? « Kwandanglebay.Com

  3. Pingback: Pidato Semalam, SBY Lupa Pakai Semir Rambut? « BIMZnews.com

  4. kaka, tebak ini siapaaa? *halahh* 😛
    sesuai janji, ade udh komen nih, ade kan ga mau kena kutukan kka, :p
    kan kasian biasnya ga ketemu ma ade (?) :p

    jujur, ade bingung mau komen apa, hehe.. :p
    tpi, ff kka bagus, kok
    ade tunggu part slanjutnya, ya ka 🙂

    • ahahahaa kk tau kok ini siapa. kkk~
      makasih ya de udah di comment *biarpun karena paksaan kk ._.*

      eh ade baca dari part 1 kan? kmren langsung kk kash link part 3 ya?
      aduh mianhae…
      part selanjutnya lg dalam tahap pembuatan tp entah kenapa mood kk buat bikin ff ini panjang-panjang jadi ilang, padahal rencana awal ff ini mau sampe panjaaaaang gitu deh. *curcol*
      tapi tiba-tiba aja ide kk lenyap semua. huhuu
      doakanlah kk de ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s